Sen. Mei 18th, 2026

Wonogiri, 4 Juli 2025 – Menyambut tahun ajaran baru 2025/2026, SMP Negeri 2 Wonogiri mengadakan In House Training (IHT) Review Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP), Jumat (4/7). Bertempat di ruang kelas IXB, IHT  diikuti oleh seluruh guru SMP Negeri 2 Wonogiri.

Kegiatan dibuka Kepala SMP Negeri 2 Wonogiri, Dra. Utami Padri Astuti, M.Pd.  Dalam sambutannya, Utami menyampaikan bahwa  IHT sebagai upaya untuk menyamakan persepsi di antara guru dan tenaga kependidikan mengenai implementasi kurikulum di satuan pendidikan. Beliau berharap, melalui kegiatan  ini, peserta  saling  memberi masukan dan hal-hal yang baru untuk memperbaiki  draft KSP, hingga tersusun KSP tahun ajaran 2025/2026 yang beradaptasi  dengan regulasi baru di bidang pendidikan,  sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan selaras dengan kondisi SMP Negeri 2 Wonogiri sebagai sekolah adiwiyata tingkat provinsi.

“Selain menyesuaikan dengan kebutuhan siswa, KSP juga harus selaras dengan visi dan misi sekolah yaitu Terwujudnya Generasi yang Religius, Berkarakter, Berprestasi, dan Berwawasan Lingkungan. Sebagai sekolah adiwiyata tingkat provinsi, penyusunan kurikulum juga harus mengintegrasikan Pembelajaran Mendalam dengan wawasan lingkungan,” ujar Utami.

IHT menghadirkan pengawas pembina, Drs. Sularno, M.M., M.Sc. sebagai narasumber. Sebelum memaparkan materi, beliau memberikan apresiasi kepada bapak/ibu guru yang telah mendukung keberhasilan  pendidikan di SMP Negeri 2 Wonogiri.

Sularno menegaskan bahwa Pembelajaran Mendalam (deep learing), bukan kurikulum, melainkan suatu pendekatan. Kata kunci dalam Pembelajaran Mendalam adalah bagaimana bisa melayani peserta didik sesuai kemampuannya. Agar dapat melayani peserta didik, guru perlu mengadakan asesmen awal. Berdasarkan  hasil asesmen awal tersebut, dibuat skala untuk membagi siswa dalam tiga kelompok, yaitu: rendah, sedang, dan tinggi. Dalam penyusunan modul ajar, selain materi esensial, guru perlu melampirkan materi yang digunakan untuk masing-masing kelompok.

Deep learning menuntut kita untuk benar-benar memahami kondisi peserta didik. Oleh karena itu, asesmen awal menjadi hal yang sangat penting agar strategi pembelajaran dan modul ajar bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa,” terangnya. Sularno juga menegaskan bahwa Kurikulum Satuan Pendidikan yang mengacu pada Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, memiliki beberapa komponen utama, salah satu di antaranya adalah Standar Kompetensi Lulusan (SKL)  yang menjadi acuan. Standar yang lain mendukung tercapainya Standar Kompentensi Lulusan.  Selain itu, keberhasilan implementasi KSP juga sangat bergantung pada sumber daya pendidikan, baik manusia maupun material. Sumber daya manusia dalam hal ini adalah tenaga pendidikan, sangat signifikan menentukan peningkatan mutu pendidikan.

“Guru adalah ujung tombak dalam peningkatan mutu pendidikan. Maka peningkatan kompetensi guru harus terus dilakukan agar mampu menjawab tantangan zaman dan kebutuhan siswa,” tegas Sularno.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *