Kam. Agu 27th, 2026

SMP Negeri 2 Wonogiri menggelar sosialisasi Gaya Hidup Berkelanjutan pada Rabu(26/8/2026) di aula sekolah. Kegiatan yang diikuti seluruh siswa kelas IX tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pembelajaran Kokurikuler Blok 1 dengan tema “Gaya Hidup Berkelanjutan”.

Hadir sebagai narasumber, Antonius Kartolo. Dalam pemaparannya, Anton mengajak para peserta didik untuk melihat kembali kondisi bumi yang dinilai sedang tidak baik-baik saja. Perubahan iklim serta berbagai bencana alam, seperti banjir, angin ribut, kebakaran hutan, hingga kerusakan infrastruktur, menjadi bukti bahwa keseimbangan lingkungan menghadapi berbagai tantangan.

Menurut Anton, bencana alam tidak semestinya dimaknai sebagai peristiwa tunggal atau sekadar sebagai kehendak Tuhan. Tuhan tidak menghendaki kesengsaraan bagi hamba-Nya. Namun, berbagai kerusakan yang terjadi dapat menjadi bagian dari proses alam dalam mencari kembali keseimbangannya.

“Kalau alam sudah menyimpang mencari keseimbangannya, kita bagian dari alam mesti harus menyesuaikan diri. Bukan alam yang menyesuaikan kebutuhan kita, tetapi kita bagian dari alam yang harus menyesuaikan apa yang menjadi keseimbangan alam,” jelasnya.

Anton juga mengingatkan bahwa manusia, sering kali tanpa disadari, turut berperan terhadap munculnya persoalan lingkungan. Hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti membuang sampah sembarangan, boros menggunakan air, maupun perilaku lain yang tidak ramah lingkungan, dapat menimbulkan dampak berantai.

“Sampah yang dibuang sembarangan dapat menyebabkan banjir. Pemborosan penggunaan air dapat menyebabkan kekeringan, dan kekeringan bisa mengakibatkan kebakaran,” ujarnya.

Karena itu, menurut Anton, kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari tindakan besar. Sekecil apa pun kepedulian yang dilakukan setiap orang merupakan bagian dari upaya melestarikan bumi.

Lebih lanjut, Anton menjelaskan bahwa esensi gaya hidup berkelanjutan terletak pada kebiasaan dan pola perilaku yang tertanam dalam kehidupan masyarakat. Gaya hidup tersebut menuntut kesadaran untuk berpikir dalam jangka panjang, dengan memahami bahwa hampir setiap tindakan manusia memiliki dampak terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.

Di hadapan para siswa, Anton kemudian mengajak mereka mengimplementasikan gaya hidup berkelanjutan melalui berbagai langkah sederhana. Di antaranya dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi dan beralih menggunakan kendaraan umum, bersepeda, atau berjalan kaki.    

Upaya lainnya adalah mengurangi penggunaan plastik dengan membiasakan membawa tas belanja dan botol minuman sendiri, menghemat energi listrik dengan mematikan peralatan elektronik ketika tidak digunakan, serta tidak membakar sampah. Sampah juga perlu dibuang pada tempatnya dan dipilah sesuai jenisnya.

Selain itu, masyarakat dapat mengurangi penggunaan gas aerosol yang banyak terdapat pada produk seperti pengharum ruangan, deodoran, dan obat serangga. Menanam pohon di pekarangan maupun lingkungan sekitar rumah juga menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan.

Menutup pemaparannya, Anton berpesan agar kepedulian terhadap bumi dilakukan secara konsisten dan bersama-sama.

“Sekecil apa pun usaha kita dalam membantu mengurangi penyebab perubahan iklim akan berdampak besar jika kita melakukannya secara terus-menerus dan bersama-sama. Ingat, bumi kita hanya satu. Sementara kita hanya memiliki satu tempat hidup, yaitu bumi kita ini. Mari kita jaga!” pesannya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *