Wonogiri — SMP Negeri 2 Wonogiri memperkuat sinergi dengan orang tua/wali siswa melalui Sosialisasi Program Sekolah yang digelar di aula sekolah, Senin, 31 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam tiga sesi yang masing-masing diperuntukkan bagi orang tua/wali siswa kelas VII, VIII, dan IX.
Nuansa budaya Jawa mengawali kegiatan. Sebagai praacara, siswa SMP Negeri 2 Wonogiri yang tergabung dalam ekstrakurikuler Karawitan, unjuk kepiawaian memainkan sejumlah gendhing, di antaranya Ladrang Pakumpulan, Ladrang Kliling Kutho, Lancaran Wonogiri Sukses, Ladrang Wilujeng, dan Lancaran Praon.
Tidak kalah memukau, grup karawitan guru dan karyawan, Dwijo Laras, membawakan gendhing Kebo Giro, Ladrang Nuswantara, Manyar Sewu, Suwe Ora Jamu, dan Gugur Gunung. Penampilan tersebut tidak hanya menjadi hiburan pembuka, tetapi sekaligus menunjukkan komitmen sekolah dalam melestarikan seni dan budaya di kalangan generasi muda.

Kepala SMP Negeri 2 Wonogiri, Utami Padri Astuti, mengatakan bahwa sosialisasi program sekolah bukan sekadar forum untuk menyampaikan agenda dan kegiatan sekolah kepada orang tua. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membangun komunikasi, menyamakan persepsi, sekaligus memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga.
Menurut Utami, sinergi sekolah dan orang tua merupakan bagian penting dalam mewujudkan visi dan misi sekolah, yakni “Terwujudnya Generasi yang Religius, Berkarakter, Berprestasi, dan Berwawasan Lingkungan.”
“Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut diperlukan sinergi antara sekolah dan orang tua siswa,” ujar Utami.
Utami menjelaskan, proses pembelajaran di SMP Negeri 2 Wonogiri dilaksanakan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Selain aspek akademik, sekolah juga memberikan perhatian besar terhadap penguatan karakter siswa melalui berbagai kegiatan pembiasaan.
Sejumlah kegiatan dilaksanakan sebelum pembelajaran, antara lain Senam Anak Indonesia Sehat, penguatan literasi, 20 Menit Bersama Wali Kelas, Esperow in Harmony berupa menyanyikan lagu nasional dan lagu daerah, serta kegiatan keagamaan.
Melalui berbagai pembiasaan tersebut, sekolah berupaya mengembangkan delapan dimensi profil lulusan, yaitu keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Upaya tersebut dilakukan melalui pembiasaan sekaligus kolaborasi seluruh warga sekolah.
Di samping penguatan karakter, SMP Negeri 2 Wonogiri terus mendorong siswa untuk berprestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Sejumlah prestasi berhasil diraih siswa dalam berbagai ajang, seperti FLS3N, OSN, O2SN, dan Popda.
Pada Popda tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2026, misalnya, SMP Negeri 2 Wonogiri mengirimkan delapan siswa yang mewakili lima cabang olahraga. Sekolah tersebut juga mengirimkan peserta dalam Jambore Nasional XII di Cibubur.
Prestasi lainnya ditorehkan melalui Juara III Wonogiri Innovation Award (WIA) kategori sekolah serta predikat juara umum Jumbara Tingkat SMP tahun 2025.
Dalam forum sosialisasi, Utami juga memaparkan sejumlah program yang akan dilaksanakan sesuai jenjang kelas. Siswa kelas VII akan mengikuti Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa), siswa kelas VIII mengikuti kegiatan Literasi Budaya, sedangkan siswa kelas IX dipersiapkan menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA).
Selain program pembelajaran dan pengembangan karakter, sekolah juga menargetkan untuk maju dalam Adiwiyata Tingkat Nasional. Untuk mencapai target tersebut, keterlibatan orang tua dinilai sangat penting, baik dalam mendukung pemenuhan berbagai indikator maupun membangun kebiasaan siswa yang peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Ketua Komite Sekolah, Sugiyarno, dalam sambutannya mengajak para orang tua untuk aktif mengawal tumbuh kembang serta pendidikan anak. Menurutnya, setiap nilai yang disampaikan dan ditanamkan orang tua kepada anak tidak akan pernah sia-sia.
Sugiyarno menekankan pentingnya keteladanan dalam pendidikan keluarga. Anak, kata dia, tidak hanya belajar melalui nasihat, tetapi juga dari apa yang dilihat dan dialaminya setiap hari.
“Anak-anak tidak pernah gagal meniru,” tegas Sugiyarno.
Karena itu, orang tua perlu memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, anak bukan robot yang dapat diatur sepenuhnya. Mereka membutuhkan ruang untuk mengekspresikan diri, sekaligus bimbingan agar berkembang menjadi pribadi yang memiliki karakter dan akhlak baik.
Sugiyarno juga mengajak orang tua mengajarkan akhlak melalui tindakan nyata, antara lain dengan membiasakan anak menghargai orang lain, menjaga perasaan sesama, serta menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik dan benar.
Menurutnya, sinergi antara sekolah dan keluarga menjadi kunci agar berbagai program pendidikan dapat berjalan secara optimal. Dalam hal tersebut, Komite Sekolah memiliki peran penting sebagai jembatan komunikasi antara sekolah dan orang tua/wali siswa.

Senada dengan Sugiyarno, Hartono, selaku perwakilan Pengurus Komite Sekolah dalam menyambut orang tua murid kelas 9, menegaskan bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama dan tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah.
“Jangan diserahkan ke sekolah saja, tugas bersama. Di balik anak-anak yang hebat, ada orang tua yang hebat,” tuturnya.
Hartono mengapresiasi kerja keras seluruh jajaran SMP Negeri 2 Wonogiri dalam mendidik sekaligus mengembangkan potensi siswa. Ia mengajak para orang tua untuk bersama-sama mengawal program sekolah, terlebih tantangan yang dihadapi generasi muda ke depan semakin kompleks.

Sosialisasi Program Sekolah tersebut menjadi momentum untuk menyatukan langkah antara sekolah, komite, dan orang tua dalam mendukung pendidikan peserta didik. Komunikasi yang terbuka, keteladanan di lingkungan keluarga, serta kerja sama yang kuat diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang semakin baik.
Dengan sinergi tersebut, SMP Negeri 2 Wonogiri berkomitmen terus mengembangkan potensi peserta didik dan mencetak generasi yang religius, berkarakter, berprestasi, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan.