Kam. Jul 2nd, 2026

SMP Negeri 2 Wonogiri  menggelar kegiatan classmeeting yang dikemas dalam bentuk pentas seni bertajuk “Panggung Ekspresi” dengan mengusung tema “Seni Beraksi, Prestasi Terpatri.” Kegiatan ini menjadi penutup  tahun ajaran 2024-2025 dan berlangsung selama dua hari, yakni pada Rabu dan Kamis, 18-19 Juni 2025, bertempat di halaman sekolah, dengan melibatkan seluruh siswa kelas 7 dan 8.

Pentas seni dibuka  oleh Kepala SMP Negeri 2 Wonogiri, Utami Padri Astuti. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang untuk menampilkan bakat dan kreativitas, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang efektif dalam mengembangkan keterampilan sosial, kemampuan berorganisasi, serta semangat kolaborasi antarsiswa.

Kepala SMP Negeri 2 Wonogiri Membuka Pentas Seni

“Pentas seni melatih kolaborasi karena melibatkan kerja sama tim untuk menciptakan suatu aksi pertunjukan yang menarik untuk ditonton,” ujar beliau.

Tiap kelas tampil secara bergiliran. Drama musikal yang dibawakan oleh kelas 7A, 7B, 7C, 7D, 7E, 8B, 8D, 8F, dan 8H, menyampaikan berbagai pesan moral dan cerita melalui perpaduan antara seni peran, musik, dan tari.

Drama Musikal

Suasana semakin semarak saat kelas 7F dan 8A menampilkan permainan tradisional seperti Cublak-Cublak Suweng dan Jamuran. Pertunjukan ini mengingatkan penonton pada nilai-nilai kebersamaan dan keceriaan masa kecil yang bersumber dari budaya lokal.

Permainan Tradisional “Jamuran”

Sentuhan budaya juga hadir melalui tarian tradisional, di antaranya tari Kecak dan Anoman Obong dari kelas 8G, serta tari Ganong dari kelas 8C. Penampilan ini mampu menyedot perhatian penonton dengan koreografi dinamis.

Tari Kecak “Anoman Obong”

Kelas 7H menampilkan line dance Nusantara. Sementara kelas 7G menghibur penonton lewat pertunjukan topeng monyet, menyuguhkan aksi yang lucu.

Topeng Monyet

Puncak dari acara ini adalah drama kolosal “Gugur Bunga” yang dipentaskan oleh kelas 8E. Drama ini menggambarkan kisah heroik perjuangan pahlawan Indonesia dalam melawan penjajah Belanda, dan disambut haru serta tepuk tangan dari para penonton atas penyampaian yang kuat dan emosional.

Drama “Gugur Bunga”

Melalui kegiatan panggung ekspresi ini, para siswa tidak hanya diberikan ruang untuk menunjukkan bakat dan kreativitas, tetapi juga belajar tentang kerja sama, toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, serta pelestarian budaya bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *