Rab. Apr 15th, 2026

Wonogiri, Kamis, 12 Februari 2026 – Melalui pembelajaran kokurikuler lintas mata pelajaran, siswa kelas VII SMP Negeri 2 Wonogiri melaksanakan praktik pembuatan ekoenzim, cairan serba guna hasil fermentasi limbah organik.

Sebelum praktik, para siswa terlebih dahulu mengikuti pelatihan pembuatan ekoenzim yang dibimbing oleh guru. Dalam kegiatan tersebut, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk memudahkan praktik pembuatan ekoenzim. Mereka mengolah sampah organik berupa kulit buah dan sayuran menjadi cairan ekoenzim yang memiliki banyak manfaat.

Sampah yang biasanya dibuang begitu saja seperti kulit pisang, nanas, jeruk, serta sisa sayuran, kini dimanfaatkan menjadi produk ramah lingkungan yang berguna. Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa limbah dapur dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai guna dan berdampak positif bagi lingkungan.

Kepala SMP Negeri 2 Wonogiri, Utami Padri Astuti  mengatakan bahwa pembuatan ekoenzim ini merupakan salah satu upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam pengelolaan limbah organik, membangun kesadaran lingkungan, serta mendukung gerakan nol limbah (zero waste) berbasis komunitas sekolah.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mewujudkan lingkungan yang bersih dan bebas sampah organik. Ekoenzim menjadi salah satu solusi ramah lingkungan untuk mengurangi sampah dapur yang bisa dilakukan bersama,” ujarnya.

Menurut Utami, pembuatan ekoenzim mampu mengurangi limbah sampah organik yang ada di sekolah. Selama ini, limbah di sekolah telah dipisahkan menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik seperti kulit buah dan sayuran yang biasanya terbuang kini diolah menjadi ekoenzim yang sangat bermanfaat.

Proses pembuatan ekoenzim tergolong mudah. Siswa menyiapkan botol plastik sebagai wadah, lalu menyiapkan bahan organik berupa kulit buah, gula, dan air. Kulit buah pisang, nanas, jeruk, serta sayuran dipotong kecil-kecil, kemudian dimasukkan ke dalam botol berisi air dan larutan gula. Perbandingan bahan yang digunakan adalah 1:3:10, yaitu 1 bagian gula, 3 bagian sampah organik, dan 10 bagian air. Setelah semua bahan tercampur, botol ditutup rapat dan didiamkan selama tiga bulan hingga proses fermentasi selesai.

Hasil fermentasi tersebut menghasilkan cairan ekoenzim yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Di antaranya sebagai pupuk organik cair untuk menyuburkan tanaman, pestisida alami, pembersih serbaguna, pengurai bau dan limbah, meningkatkan kualitas udara, cairan untuk mengepel lantai, hingga pelembut pakaian.

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar mengelola sampah, tetapi juga memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Pembuatan ekoenzim menjadi langkah sederhana namun berdampak besar dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan.

Pelatihan Membuat Ekoenzim
Bahan Membuat Ekoenzim
Proses Pembuatan Ekoenzim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *