Jum. Apr 3rd, 2026
Home Visit Selama Pandemi Covid-19

     SMP Negeri 2 Wonogiri dalam masa pandemi COVID-19 menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh murni. Dasar dalam pelaksanaannya adalah data awal PJ yang telah dihimpun sebelumnya. Dari data awal tersebut diketahu bahwa hampir 100% siswa SMP Negeri 2 Wonogiri memiliki sarana prasarana untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh meskipun berapa persen diantaranya menggunakan sarana PJJ milik orang tuanya.

     Pembelajaran jarak jauh di SMP Negeri 2 Wonogiri menggunakan platform yang mudah digunakan dan irit kuota. Beberapa platform yang digunakan adalah Microsoft kaizala, WA grup, Microsoft Teams dan Google Classroom. Proses Pembelajaran Jarak Jauh tidak sesederhana yang dibayangkan, karena bapak ibu guru lebih intens dalam membuat materi ajar yang mudah dipahami, mudah diakses siswa dengan kuota rendah, dan mampu mengakomodir tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Berbekal pelatihan dalam waktu singkat, bapak ibu guru harus mahir membuat materi ajar serta mahir menggunakan kemutakhiran teknologi dalam pembelajaran jarak jauh.

     Disisi lain, permasalahan muncul dari siswa/peserta didik. Pembelajaran jarak jauh terasa membosankan dan membebani siswa. Siswa bosan dengan pembelajaran mandiri serta penugasan yang harus diselesaikan oleh mereka. Meskipun penugasan tersebut lebih lunak dan kadang batas waktu pengumpulan lebih panjang. Siswa lebih suka berinteraksi langsung dalam proses belajar mengajar dalam kelas. Peran orang tua yang diharapkan mendampingi proses belajar jarak jauh pun tidak bisa optimal. Hal ini disebabkan hampir 93% orang tua/wali murid siswa SMP negeri 2 Wonogiri bekerja sehingga tidak bisa mendampingi putra-putri mereka saat PJJ.

        Begitu banyak kendala yang muncul saat PJJ diantaranya adalah :

  1. Sulit bagi guru untuk memotivasi siswa agar stand by saat jadwal pelajaran berlangsung di kelas virtual;
  2. Sulit bagi guru untuk memotivasi siswa selalu melakukan presensi kehadiran, meskipun telah dipermudah tanpa batasan wantu;
  3.  Sulit bagi guru mengajak siswa aktif dalam diskusi kelas;
  4. Hampir disetiap kelas terdapat siswa yang sama sekali tidak merespon presensi maupun diskusi kelas, apalagi penugasan guru mapel; dan masih banyak persoalan lain yang muncul pada proses pembelajaran jarak jauh.

       Dengan berbagai masalah yang muncul, maka guru mapel berkoordinasi dengan wali kelas dan guru BK mengidentifikasi siswa bermasalah tiap kelas. Hasil identifikasi tersebut kemudian di-follow up dengan komunikasi dengan orang tua wali murid. Setelah komunikasi dengan orang tua wali murid, guru mapel melakukan pemantauan kemajuan aktivitas siswa. Ketika hal tesebut diatas telah dilakukan dan masih juga bermasalah, maka bapak ibu wali kelas dan guru BK mengadakan home visit ke rumah siswa.

     Masalah yang dihadapi siswa ketika di-homevisit pun direkam oleh bapak ibu walikelas dan guru BK, diantaranya:

  1. Siswa mengalami kesulitan mengikuti PJJ karena HP rusak dan secara ekonomi belum bisa membeli HP baru;
  2. Siswa kurang motivasi mengikuti PJJ sehingga bangun kesiangan, tidak masuk kelas virtual dan tidak mengerjakan tugas.

     Dengan adanya home visit guru mengetahui permasalahan siswa secara langsung. Beberapa solusi yang dilakukan oleh guru SMP Negeri 2 Wonogiri adalah :

  1.       Membantu siswa tidak mampu dengan memberikan HP second yang masih berfungsi  baik untuk PJJ;
  2. Memberikan kuota belajar saat kuota sekolah dan kuota belajar pusat belum cair;
  3. Memberikan motivasi dan bimbingan kepada siswa untuk lebih rajin mengikuti proses pembeajaran jarak jauh.

       Program home visit untuk mencari solusi permasalahan yang muncul dalam pembelajaran jarak jauh menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengetahui kondisi sesungguhnya di lapangan. Hal ini akan dilakukan secara berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan yang muncul dalam pembelajaran jarak jauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *