SMP Negeri 2 Wonogiri mengadakan studi banding ke TPS3R Bhakti Utomo, Kelurahan/Kecamatan Wuryantoro, pada Rabu, 11 Februari 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh 251 siswa kelas VII dan VIII bersama guru pendamping sebagai bagian dari pembelajaran kokurikuler tema “Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia”.
Studi banding ini bertujuan agar para siswa dapat belajar dan mengetahui secara langsung proses pengelolaan sampah. Setelah memahami prosesnya, para siswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap lingkungan serta mampu menerapkan pengelolaan sampah dengan baik, baik di rumah maupun di sekolah.
Kedatangan rombongan disambut oleh Ketua Pengelola TPS3R Bhakti Utomo, Sunardi, dan Humas TPS3R, Indra Provianto, beserta jajaran pengurus lainnya.
Indra Provianto menjelaskan bahwa TPS3R Bhakti Utomo yang diresmikan oleh Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, pada 27 Maret 2023, bukan sekadar tempat penampungan sampah, melainkan tempat pengolahan sampah. Sampah yang masuk dipilah dan diolah berdasarkan jenisnya sehingga tidak menimbulkan bau maupun polusi.
“Tempat pengelolaan sampah ini tidak bau karena dipilah dengan baik,” jelasnya.
Keberadaan TPS3R Bhakti Utomo berperan penting dalam mengurangi jumlah sampah rumah tangga yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). TPS3R ini dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang setiap hari mengambil sampah dari rumah tangga, perkantoran, serta lembaga pendidikan di wilayah Wuryantoro dan Manyaran.
Setibanya di TPS3R, sampah diturunkan ke bak penampungan untuk kemudian dipilah oleh petugas. Pemilahan dilakukan untuk memisahkan sampah yang masih memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomis. Sampah nonorganik yang tidak dapat terurai, seperti botol plastik, besi, kaca, dan seng, dikumpulkan dan dijual kepada pengepul barang rongsokan. Hasil penjualan tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan untuk menunjang operasional TPS3R.
Sementara itu, sampah organik seperti limbah dapur, daun, dan sisa makanan diolah menjadi kompos atau pupuk organik. Jika jumlah sampah organik terlalu banyak dan tidak memungkinkan untuk diolah seluruhnya menjadi kompos, TPS3R bekerja sama dengan peternakan maggot yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi. Selain memiliki nilai ekonomi, keberadaan TPS3R juga membantu memperpanjang usia pakai TPA di Ngadirojo.
Dalam kesempatan tersebut, para siswa juga menyaksikan secara langsung proses pembuatan kompos. Sampah organik terlebih dahulu dicacah, kemudian difermentasi selama kurang lebih empat minggu. Setelah proses fermentasi selesai, kompos dicacah kembali, dikemas, dan siap dipasarkan.
Indra Provianto berharap kunjungan ini membawa manfaat, menambah wawasan, dan menjadi inspirasi bagi para siswa.
“Ingat sekali lagi, jangan jijik dengan sampah karena jika kita bisa mengelola dengan baik, bisa jadi berkah. Sampah jangan dibuang sembarangan. Sampah plastik jangan dibakar karena bisa menjadi polusi. Semua sampah bisa dimanfaatkan,” pesannya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMP Negeri 2 Wonogiri, Wiyadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menumbuhkan kepedulian dan kesadaran lingkungan sejak dini. Melalui kunjungan ini, siswa dapat mengetahui secara langsung proses pengelolaan sampah, mulai dari pengambilan, pemilahan, hingga pengolahan sampah organik dan nonorganik.
Ia berharap, melalui studi banding ini, siswa tidak hanya memahami teori tentang pengelolaan sampah, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kesadaran menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan dapat tumbuh dan menjadi budaya, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.





