SMP Negeri 2 Wonogiri terus berinovasi dalam menciptakan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Salah satu terobosan terbaru adalah gerakan Literasi Sains Botani Sekolah, yang lahir dari kebutuhan nyata di kelas saat melakukan praktikum struktur tubuh tumbuhan.
Semua berawal saat guru meminta siswa untuk memetik daun dari tanaman tertentu yang tumbuh di halaman sekolah. Namun, karena kurangnya pengetahuan siswa mengenai jenis-jenis tanaman tersebut, banyak dari mereka yang membawa daun yang salah. Guru pun harus menyebutkan nama tanaman serta lokasi dan ciri-cirinya satu per satu. Kendala ini kemudian menginspirasi lahirnya gerakan literasi sains berbasis lingkungan sekolah yang dikemas secara kreatif.
Inovasi: Video TikTok dan Barcode Tanaman
Gerakan ini menggabungkan pendekatan saintifik, literasi digital, dan kreativitas siswa. Siswa diajak membuat video pendek berisi informasi ilmiah tentang tanaman-tanaman yang ada di lingkungan sekolah. Video tersebut diunggah ke TikTok sekolah, berisi penjelasan sederhana namun informatif tentang nama tanaman, ciri morfologi, manfaat, dan habitatnya.
Setelah itu, tautan video dikonversi menjadi barcode atau QR code yang kemudian ditempel langsung di tanaman yang bersangkutan. Ketika siswa lain menemukan tanaman tersebut dan memindai barcode-nya, mereka langsung diarahkan ke video penjelasan yang memuat informasi tanaman tersebut. Dengan begitu, halaman sekolah pun berubah menjadi “museum botani interaktif” yang bisa diakses kapan saja oleh seluruh warga sekolah.

Manfaat yang Dirasakan
Inovasi ini membawa berbagai manfaat, di antaranya:
- Meningkatkan pemahaman siswa terhadap struktur dan jenis tumbuhan secara langsung dan kontekstual.
- Menumbuhkan rasa ingin tahu serta kemampuan berpikir kritis dan ilmiah.
- Meningkatkan literasi digital siswa dalam pembuatan konten edukatif yang berkualitas.
- Membuat lingkungan sekolah menjadi lebih hidup dan edukatif, bahkan di luar jam pelajaran.

- Harapan ke Depan
Dengan adanya Literasi Sains Botani Sekolah, diharapkan seluruh siswa dapat lebih mengenal dan mencintai lingkungan sekitarnya. Tidak hanya belajar dari buku, tapi juga dari pengalaman nyata yang dikemas secara kreatif dan menyenangkan. Guru pun berharap inovasi ini bisa menjadi contoh bahwa pembelajaran sains bisa menyenangkan, dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta bisa dikembangkan dengan sentuhan teknologi.