Jum. Apr 3rd, 2026

Inovasi daerah adalah semua bentuk pembaharuan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 diatur secara tegas tentang inovasi daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Selain itu untuk mempercepat implementasi inovasi daerah pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah nomor 38 Tahun 2017 tentang inovasi daerah dan juga Permendagri Nomor 104 Tahun 2018. Merujuk pada PP No 38 Tahun 2017, bentuk inovasi daerah meliputi: inovasi tata kelola pemerintahan daerah, inovasi pelayanan publik dan inovasi lainnya yang menjadi kewenangan daerah.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2017 tentang inovasi daerah, setiap daerah melakukan inventarisasi inovasi dan sebagai database inovasi daerah yang dimiliki oleh masing–masing daerah. Peraturan Pemerintah tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik, pemberdayaan & peran serta masyarakat, dan peningkatan daya saing daerah. Hal ini juga didukung oleh Peraturan Bupati Wonogiri nomor 138 Tahun 2021 tentang inovasi daerah tahun 2021, untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan, maka diperlukan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintah daerah baik dalam bentuk tata kelola pemerintahan, inovasi pelayanan publik atau inovasi daerah lainnya sesuai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah.Pendidikan di sekolah, memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitas dan aktualisasinya. Melalui pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, berbagai keterampilan diajarkan. Namun  ajang kreatifitas itu sering tidak dimanfaatkan dengan baik, karena berbagai alasan. Ada yang beralasan tidak punya bakat, tidak berminat, bingung mau apa, ada anggapan keterampilan tidak penting yang penting nilai akademisnya, dan alasan lainnya. Sayang kalau alasan-alasan klise itu tidak diubah. Karenanya perlu dicarikan solusi bagaimana menumbuhkan minat siswa untuk terampil berkreatifitas, bagaimana siswa menggali ide, dan bagaimana pula trik menarik agar siswa mampu mengembangkan ide dengan tetap memperhatikan proses pembentukan karakter positif. Hal ini menyebabkan perlunya sebuah inovasi dalam pembelajaran yang mampu memberikan ruang pengembangan kreativitas

Pengorganisasian pembelajaran pada Kurikulum Merdeka lebih menekankan pada penanaman karakter siswa yang tercermin sebagai profil pelajar Pancasila. Siswa diharapkan mencapai tahapan berkembang, bahkan sangat berkembang dalam dimensi keimanannya, jiwa gotong royong, kebhinekaan, bernalar kritis, kreatif, dan mandiri. Upaya mencapai harapan tersebut, di antaranya diimplementasikan melalui kegiatan kokurikuler yaitu Projek Pengembangan Profil Pelajar Pancasila atau P5. P5 dalam Kurikulum Merdeka harus dialokasikan  minimal 20% dari total jam pelajaran dalam satu semester dan dalam satu tahun. P5  ini bisa dikembangkan dengan sistem blok ataupun sistem reguler. Sistem blok dilakukan secara berurutan dalam kurun waktu satu minggu. Sistem regular dapat dilaksanakan dengan mengambil waktu 1jam setiap hari.

Pengorganisasian P5 dengan sistem blok lebih memungkinkan siswa untuk berkolaborasi, berproses, hingga menghasilkan suatu produk. Salah satu kegiatan P5 di SMP Negeri 2 Wonogiri pada tema kearifan local topik batik ecoprint adalah berproses membuat kain kaos batik ecoprint dengan berbagai kreasi.  Selanjutnya dikembangkan dengan inovasi Seni Membatik Ecoprint Artistik (SEMBACO PINTAR)

 SEMBACO PINTAR  merupakan akronim dari Seni membatik ecoprint artetis. Inovasi SEMBACO PINTAR  adalah terbentuknya metode pembelajaran kolaboratif terpadu yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Inovasi ini diterapkan pada pembelajaran kokurikuler Projek Pengembangan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada tema Kearifan Lokal. Metode pembelajaran yang diterapkan dalam SEMBACO PINTAR adalah pembelajaran tematik terpadu beberapa mata Pelajaran yang dikerjakan dalam satu projek. Dalam pembelajaran tersebut, kolaborasi tim sangat menentukan keberhasilan proses sampai hasil. Dimensi profil pelajar Pancasila yang tercermin dalam inovasi tersebut fokus pada dimensi gotong royong, kreatif, dan bernalar kritis.

Pembuatan batik dikembangkan secara kolaboratif dalam satu tim. Diproses mulai desain di buku gambar, dikembangkan dengan media kain atau kaos dengan mereplika tumbuhan ke dalam kain secara artistik. Kegiatan pembelajaran ini menjadi lebih menyenangkan dan mengasyikkan. Siswa aktif, tidak merasa bosan selama kegiatan belajar mengajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *