Ming. Mei 17th, 2026

Wonogiri, 8 Agustus 2025 – SMP Negeri 2 Wonogiri mengadakan In House Training (IHT) Pembelajaran Mendalam. Bertempat di ruang kelas IX B, IHT diikuti oleh seluruh guru SMP Negeri 2 Wonogiri. Kegiatan ini merupakan pengimbasan pelatihan Pembelajaran Mendalam yang diikuti oleh kepala sekolah dan guru sasaran SMP Negeri 2 Wonogiri.

IHT dibuka dengan sambutan dari Kepala SMP Negeri 2 Wonogiri, Utami Padri Astuti. Utami menyampaikan bahwa  IHT bertujuan memberikan pemahaman kepada guru dalam merancang pembelajaran yang berpusat pada siswa dan menerapkan strategi Pembelajaran Mendalam. Menurut beliau, pendidikan saat ini menuntut pendekatan yang lebih dalam dan bermakna. Guru harus bersama-sama terus belajar karena sesuatu yang baru perlu proses untuk memahami. Implementasi dari Pembelajaran Mendalam merupakan proses yang terencana, sistematis, dan terukur.

Utami berharap, IHT ini menjadi langkah strategis dalam membangun masa depan pendidikan sekaligus mempersiapkan siswa menghadapi tantangan era digital.

IHT menghadirkan lima narasumber yaitu: Utami Padri Astuti, Ari Hariyanti, Lilana Herni Widyawati, Nur Widhi Hastuti, dan Giri Hatmono.

Di sesi pertama, Utami Padri Astuti  memaparkan konsep Pembelajaran Mendalam serta regulasi-regulasi yang mendukung Pembelajaran Mendalam. Beliau juga menguraikan implementasi Pembelajaran Mendalam di intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Menurut Utami, pembelajaran mendalam berbeda dari pendekatan lain karena mengedepankan anak-anak sebagai mitra.

Materi kedua dibawakan oleh Ari Hariyanti dengan topik Pola Pikir Tetap (Fixed Mindset) versus Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset). Ari menjelaskan bahwa Pola Pikir Tetap adalah kepercayaan bahwa kemampuan dan kecerdasan bersifat statis, yang menyebabkan rasa takut gagal dan mudah menyerah. Sebaliknya, Pola Pikir Bertumbuh percaya bahwa kemampuan bisa dikembangkan melalui usaha dan belajar, serta melihat kegagalan sebagai kesempatan belajar. Cara mengembangkan pola pikir ini antara lain dengan mengubah cara berbicara pada diri sendiri dari “saya tidak bisa” menjadi “saya belum bisa”, fokus pada proses, belajar dari kritik, merayakan usaha, dan terus mencoba hal baru.

Materi ketiga mengenai pembuatan perencanaan pembelajaran disampaikan oleh Liliana Herni Widyawati. Beliau menguraikan langkah-langkah perencanaan pembelajaran yang meliputi: identifikasi kesiapan peserta didik, desain pembelajaran yang kontekstual, merancang pengalaman belajar, dan asesmen berkesinambungan.

Pada kesempatan ini, peserta belajar membuat  perencanaan pembelajaran sesuai bidang mata pelajaran masing-masing.

Materi keempat oleh Nur Widhi Hastuti mengangkat tentang Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam. Beliau menjelaskan bahwa asesmen adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengetahui kebutuhan belajar serta capaian perkembangan murid. Menurut Nur Widhi Hastuti, asesmen menekankan pada tiga prinsip yaitu: berkeadilan (tidak bias terhadap latar belakang peserta didik), edukatif (hasilnya digunakan sebagai umpan balik untuk meningkatkan proses belajar), dan objektif (berdasarkan fakta pencapaian peserta didik).

Pengembangan asesmen pada pembelajaran mendalam yaitu asesmen formatif dan sumatif. Asesmen formatif perlu dikuatkan untuk memberikan umpan balik selama proses pembelajaran, dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan untuk mencapai level Pembelajaran Mendalam, mempertimbangkan 3 (tiga) pengalaman belajar PM yaitu Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi, sedangkan asesmen sumatif dilaksanakan untuk mengetahui capaian pembelajaran secara menyeluruh.

Pemateri terakhir adalah Giri Hatmono menyampaikan Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran Mendalam. Peserta diperkenalkan dengan mata pelajaran Koding dan pemanfaatan Kecerdasan Artifisial (AI), implementasinya dalam dalam pembelajaran seperti pembuatan materi ajar, maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Menutup kegiatan, para peserta melakukan refleksi bersama menyusun rencana implementasi Pembelajaran Mendalam guna menciptakan pembelajaran yang lebih konstektual dan bermakna bagi siswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *